Pada pertengahan 2000-an, sebuah malware family asal Indonesia dengan nama Brontok menjadi malware family ke-20 yang paling banyak menyebar di dunia, menurut Microsoft Security Intelligence Report.

Saat itu saya masih SMP, dan komputer di sekolah saya termasuk yang terinfeksi.

Ketika mencari solusinya, saya mendapatkan bantuan dari sebuah komunitas online cybersecurity Indonesia. Saya menjadi aktif jauh lebih lama di forum tersebut daripada yang awalnya saya rencanakan. Sejak itu, saya bergabung dengan berbagai komunitas lain.

Walaupun sebagian besar komunitas hacker pada masa itu dipenuhi praktik yang patut dipertanyakan, saya cukup beruntung dapat bergabung dengan komunitas hacker etis Indonesia yang berfokus pada diskusi mendalam. Di sana, saya mempelajari berbagai topik menarik seperti web security, reverse engineering, dan binary exploitation, sekaligus belajar menerapkan pengetahuan tersebut untuk tujuan yang baik.

Saya kagum melihat bagaimana orang-orang dari negara saya dapat menunjukkan kemampuan yang cukup tinggi dalam bidang sekompleks cybersecurity.

Padahal, dalam benchmark OECD PISA 2022, Indonesia berada pada 15% hingga 20% peringkat terbawah untuk hasil pendidikan secara keseluruhan di antara 81 negara dan wilayah ekonomi yang berpartisipasi. Kita jarang diperhitungkan dalam komunitas STEM global dan sering dianggap tidak semampu negara tetangga seperti Singapura dan Vietnam.

Meski demikian, Indonesia mencatat hasil yang baik dalam kompetisi akademik dan keahlian internasional.

Hingga 2026, perwakilan Indonesia kerap meraih hasil yang baik dalam olimpiade STEM dan kompetisi keahlian di bidang matematika, ilmu eksakta, dan teknologi informasi, termasuk Capture the Flag (CTF).

CTF populer di kalangan pelajar dan komunitas cybersecurity Indonesia. SKSD, tim yang saya rintis bersama rekan-rekan komunitas Indonesia, menempati peringkat #9 global CTFtime pada 2023 dari lebih dari 40.000 tim. Tim tersebut kemudian menjadi kurang aktif ketika batas negara semakin tidak relevan dan banyak pemain bergabung dengan tim internasional top, termasuk tim yang memenangkan DEF CON CTF 2026.

Indonesia juga memiliki bug bounty hunter yang menempati peringkat tinggi dalam berbagai program prestisius, researcher dengan kredit CVE yang penting, dan developer di balik proyek open-source security yang populer.

Sebagai negara berkembang dengan 280 juta penduduk, skala Indonesia meningkatkan kemungkinan adanya orang-orang dengan rasa ingin tahu tinggi dan kemauan untuk belajar, beberapa di antaranya dapat menjadi outlier dalam populasi sebesar ini.

Mempromosikan riset dan engineering cybersecurity

Kompetisi keahlian merupakan indikator yang baik, tetapi pada akhirnya pengetahuan perlu diterapkan melalui riset dan engineering.

Riset adalah bagian penting dari cybersecurity. Praktisi di seluruh dunia meneliti kerentanan baru pada software yang digunakan secara luas, metodologi baru, ancaman penting, dan pendekatan engineering praktis untuk memperbaiki cara kita menguji sistem dan membangun pertahanan keamanan.

Sejumlah researcher Indonesia telah menerbitkan dan mempresentasikan karya penting, tetapi saya percaya kita masih bisa mendorongnya lebih jauh.

Visi IDNSEC adalah menjadi hub riset dan engineering cybersecurity untuk Indonesia. Hal ini semakin penting ketika perkembangan AI mengubah pekerjaan offensive dan defensive security secara radikal.

Walaupun didirikan sebagai entitas independen yang tidak berorientasi bisnis, misi jangka panjang IDNSEC adalah meningkatkan pertahanan siber, keahlian, dan kapabilitas di Indonesia. Ke depannya, apabila berkesempatan, instansi pemerintah, institusi, dan organisasi di Indonesia dapat berkolaborasi dengan anggota atau kontributor kami untuk menyelesaikan masalah cybersecurity.

Fokus awal kami meliputi:

  1. Berkolaborasi dengan praktisi cybersecurity Indonesia untuk membagikan dan menerbitkan hasil pekerjaan serta riset penting dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
  2. Mengkurasi tulisan untuk menghindari AI slop dan materi umum yang hanya memberikan sedikit nilai.
  3. Melibatkan mahasiswa dan profesional untuk menumbuhkan minat terhadap riset dan engineering cybersecurity.
  4. Membentuk focus group untuk riset bersama dan berbagi pengetahuan penting.
  5. Membuka jalur komunikasi bagi organisasi di Indonesia untuk membahas cara mempercepat dan memperkuat riset serta engineering cybersecurity, khususnya melalui AI.

Call for contributors

Jika kalian adalah praktisi cybersecurity Indonesia yang tertarik untuk berkontribusi atau ingin mengetahui lebih lanjut tentang inisiatif ini, kalian dapat menghubungi kami di hi@idnsec.com.

Kami mencari tulisan yang memberikan konteks dan nilai baru, atau menawarkan insight spesifik dari pengamatan dan pengalaman kalian. Jika menggunakan AI untuk riset atau penulisan, pastikan outputnya divalidasi dan hindari AI slop dalam substansi, teks, atau gambar yang dihasilkan.

Jika diinginkan, kalian dapat memilih untuk menampilkan atau menyembunyikan identitas dalam publikasi.

Kami menantikan karya-karya menarik kalian! Semoga kita dapat melakukan berbagai hal menarik dan berkontribusi kembali kepada komunitas di Indonesia dan secara global.